Di tengah reruntuhan, sepasang kaki mungil bergerak tersaruk. Terhalang sebongkah batu. Tersandung. Menambah gores di lutut dan sekujur betisnya. Pemilik kaki itu mengusapnya dengan sedikit rintihan. Telapak tangannya yang bernoda membuat lukanya menghitam. Ia kembali mengaduh, sebelum akhirnya memutuskan bertumpu pada sebatang pilar yang hanya tinggal setinggi pinggang orang dewasa itu.
Ia memandang matahari, berpikir mungkinkah ia tinggal seorang diri. Lekas diabaikannya ide itu dari benaknya, karena hanya akan melemahkan hatinya. Dilepaskannya tumpuannya, dicobanya kembali melangkah. Namun sekali lagi lututnya menyapu tanah. Perih di kaki dan di hati merebakkan air matanya, dan ia tak berusaha mengusapnya.
Beberapa menit air matanya jatuh ke tanah, ia mendengar sesuatu. Seperti tangisan. Seperti rintihan. Segera ia menggosok matanya dan menghentikan isaknya, untuk memastikan yang didengarnya bukan gema.
Tidak.
Ada seseorang selain dia di sini.
Ia mencoba memanggil. Rintihan itu tak merespon. Sekali lagi.
”Saya di sini,” sahutnya, kemudian.
Anak laki-laki itu merasakan darah kembali memenuhi rongga kepalanya. Walau dengan beringsut, ia berusaha mendekati rintihan itu.
”Di mana?” panggil anak laki-laki itu sekali lagi.
”Di sini,” jawab rintihan itu, ”saya tak bisa bergerak. Saya di dekat altar.”
Beringsut beberapa langkah dan anak laki-laki itu dapat melihat Si Pemilik Suara. Dan benarlah, kaki Si Pemilik Suara jauh lebih buruk keadaannya daripada Si Anak Laki-laki. Mungkin tak lama lagi.
”Paman,” panggil anak laki-laki itu, ”aku akan cari bantuan. Paman bertahanlah.”
”Tidak! Tidak!” Sang Paman memotong cepat, ”Saya tak punya waktu lagi. Kemarilah, saya akan memberikan kehidupan yang jauh lebih baik padamu.”
Anak laki-laki itu agak tercengang. Apa yang dibicarakan paman ini pada situasi yang seperti ini?
”Bertahanlah, Paman, saya tak akan lama,” kata anak laki-laki itu mencoba membangkitkan semangat. Ia sendiri lupa bagaimana tekadnya sendiri nyaris lenyap.
”Tidak! Kemarilah, Nak, kemarilah! Saya mohon.”
Anak laki-laki itu bimbang sejenak, namun kemudian ia beringsut mendekat.
”Terima kasih,” suara Sang Paman terdengar amat lega, ”saya ingin menitipkan sesuatu padamu.” Lengan Sang Paman yang gemetar merogoh sebuah kantung kumal yang terikat di pinggangnya, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebuah keping, seperti uang logam tetapi lebih lebar dan lebih bercahaya. Walaupun tertutup oleh debu dan pasir, sama sekali tak mengurangi kilaunya. Keping itu berukir sebuah simbol yang rumit, yang tampaknya tak sembarang orang bisa membuatnya, apalagi memilikinya. Anak laki-laki itu terpesona.
”Untukmu,” kata Sang Paman.
Kesekian kalinya anak laki-laki itu dibuat terkejut. ”Untukku? Terima kasih, tapi mungkin tak akan banyak gunanya. Negeri ini telah musnah, siapa yang akan membelinya?”
Paman itu menggeleng. ”Ini bukan untuk dijual, Nak,” katanya lambat-lambat, ”Lebih dari itu. Dengan ini kau bisa memiliki semua yang belum pernah kaumiliki dan memperoleh kesempatan yang mungkin takkan pernah kaudapatkan.”
Anak laki-laki itu kembali tercengang. ”Maksud paman apa?”
Paman itu terbatuk. ”Saya tak punya waktu untuk menjelaskan,” jawabnya lemah. ”Paman akan mengirimmu pada,” ia terbatuk lagi, ”pada sebuah tempat dimana kau bisa menggunakan benda ini, tapi----”
Paman itu kembali terbatuk, dan terbatuk lagi. Si Anak Laki-laki mencoba meneguhkan letak duduknya, berharap membuat kondisi paman yang baru dikenalnya itu membaik.
”Nak, tapi saya mohon penuhi syaratnya. Temukan orang yang memiliki benda yang sama dengan ini----”
”Paman, sebaiknya aku cari bantuan,” kata Si Anak Laki-laki dengan panik melihat Sang Paman kembali terbatuk dan kali ini cairan merah kental mengalir lambat di sudut bibirnya.
”Tidak! Jangan!” Paman itu mencengkeram lengan Si Anak Laki-laki dengan kekuatan yang sukar dipercaya, ”Kau harus temukan! Orang dengan simbol yang sama! Orang yang memiliki simbol yang sama dengan milikmu!”
Terdengar suara gemuruh di langit yang mendadak menghitam. Kilat menyambar, yang anehnya hanya di sekitar altar tempat Si Anak Laki-laki dan Sang Paman berpegangan tangan. Udara menjadi sedingin beku, dan anak laki-laki itu merasa amat ketakutan, lebih daripada saat ia menatap matahari beberapa saat yang lalu.
Namun Sang Paman tak berhenti berbicara.
”Berjanjilah, Nak, orang yang memiliki simbol itu, kau akan melindunginya! Dia tidak boleh mati! Saya mohon, dia tidak boleh mati!”
Kilat kembali menggetarkan altar, seolah amat dekat dengan kepala keduanya. Anak laki-laki itu memeluk erat Sang Paman, mencoba memperoleh ketenangan darinya, hingga disadarinya bahwa ternyata Sang Paman tidak ada di dalam pelukannya.
Ia terperangah.
Lalu disadarinya langit yang menghitam tadi amat cerah.
Dan disadarinya reruntuhan altar berubah menjadi istana yang megah.
Ia memandang berkeliling, terkesima, ketakutan, takjub, bercampur jadi satu, lalu ia ingat yang pernah dikatakan paman itu.
”...kau bisa memiliki semua yang belum pernah kau miliki...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar