Jumat, 30 Juli 2010

Bagian 1 : Orang dengan Simbol yang Sama

Nove percaya, ia satu-satunya ahli waris. Walaupun ia perempuan, ia satu-satunya keturunan Raja Adaman, penguasa Negeri Eternity. Lagipula, ayahnya itu pernah mengatakan padanya, bahwa tidak akan menjadi masalah jika Eternity dipimpin seorang perempuan. Oleh karenanya, sejak dini Nove telah diajarkan berbagai ilmu dan keterampilan yang akan menjadikannya pemimpin yang hebat.
Eternity memang bukan negeri yang besar. Jumlah penduduknya tak lebih dari seribu orang. Pun tidak ada kota-kota di dalamnya. Meskipun demikian, Eternity adalah sebuah negeri yang mandiri. Keindahan dan kekayaannya menjadikan Eternity tak membutuhkan campur tangan negeri lain.
Eternity memiliki segalanya.
Bahkan, negeri itu tidak membutuhkan tentara. Penduduk Eternity berikut pemimpinnya bekerja bersama. Seluruh kekayaan negeri adalah milik bersama, dan setiap penduduknya memiliki peran masing-masing yang diatur di buku besar Rumah Induk . Tidak ada rasa iri, tidak ada yang lebih maupun kurang dari yang lain. Setiap konflik diselesaikan dengan kekeluargaan dan jika tidak dapat diputuskan, maka Raja yang akan memberikan keputusan. Dan belum pernah ada yang tidak dapat menerima hasilnya.
Itu sebabnya, sekalipun Nove seorang putri Raja, ia pergi belajar ke sekolah yang sama dengan semua anak di Eternity. ”Kunci menjadi seorang pemimpin yang baik adalah mengenal warganya dengan hati,” kata Raja Adaman pada putri semata wayangnya itu suatu ketika, ”oleh sebab itu, selain pelajaran di Rumah Induk, kau juga harus belajar bersama di sekolah.” Nove sama sekali tak keberatan dengan aturan ini, karena ia juga lebih suka pergi ke sekolah daripada belajar sendirian di Rumah Induk, meskipun dengan demikian, jam belajarnya jadi lebih banyak daripada anak-anak lain.
”Kadang-kadang aku jadi capek ngeliat kamu,” komentar sahabat karibnya, Maya Escrava, suatu hari, ”pulang sekolah, malamnya masih ada pelajaran tambahan di rumah. Kalau aku, sih, mana tahan!”
Nove cuma tersenyum mendengarnya. Ia tak perlu mengatakan bahwa hal itu sudah merupakan kewajibannya, lagipula ia yakin May juga sebenarnya sudah tahu itu. Sahabatnya itu hanya mengekspresikan kekesalannya karena tak bisa mengajak Nove keluyuran sepulang sekolah seperti anak-anak lain.
”Oh, ayolah, nggak bisakah kau bolos malam ini saja?”
Nah, benar, kan.
”Ada pesta di rumah Lisa, kau bakal nyesel kalau nggak ikutan!”
”Entahlah,” jawab Nove akhirnya.
”Tanyakan ayahmu.”
”Bukan ayah yang jadi masalah.”
Ya, benar, bukan ayah Nove yang jadi masalah, tetapi ajudan ayahnya, Suga Saikanova. Suga sangat-sangat-sangat disiplin terhadap penegakan aturan di rumah induk dan entah kenapa, Raja Adaman juga tidak pernah mengabaikan nasihat ajudannya itu.
”Tuan Saikanova?” tebak May, wajahnya masam dibuat-buat, ”Oh, jadi cinta lebih penting daripada sahabat, ya.”
Pipi Nove memerah, ”Apa? Hei, kapan aku bilang begitu?”
May nyengir keledai, ”Apa perlu bilang? Pipimu udah kayak tomat gitu, nggak usah bilang juga semua orang tau!”
”Aku nggak punya pikiran macam itu, May!”
”Hei, hei, nggak usah marah-marah, ’napa, sih? Nggak ada yang tau selain aku, kok!”
”May! Kutegaskan, aku nggak----”
”Putri Nove,” sebuah suara yang datar namun tak-bisa-dibantah tiba-tiba muncul dari ujung jalan. Sosok pemiliknya yang jangkung sedikit berkesan angkuh dan mengintimidasi. Plus, wajahnya sama sekali tidak bisa dibilang jelek. Di negeri yang penghuninya terbatas ini, semua gadis di Eternity bermimpi menjadi istrinya .
Termasuk Nove.
Nove membalikkan badan, ”Y-ya.”
“Putri Nove, anda tak seharusnya berada di luar saat ini.”
”Eh, ya, aku tahu.”
”Saya, Putri Nove. Bukan aku.”
”Maaf, eh, saya tahu.”
May terkikik memperhatikan ekspresi sahabatnya yang setengah-senang-setengah-takut itu. Nove medengarnya dan melancarkan serangan sikut, tetapi May berhasil mengelak. Gerakan itu memancing tatapan mengintimidasi Suga. Cepat-cepat Nove berlari kecil menuju Rumah Induk.
”Jangan terlalu keras padanya,” kata May ketika sosok Nove sudah tak kelihatan lagi dan Suga bermaksud menyusulnya.
Suga berhenti melangkah, namun tidak mencoba melihat May.
”Bebannya berat, kau tahu itu. Bersikaplah sedikit lembut,” lanjut May.
”Justru karena itu,” jawab Suga tanpa menoleh, lalu melanjutkan perjalanannya. May tak mencoba menghentikannya lagi.
”Kau bilang begitu,” bisik May lambat-lambat, hanya untuk didengarnya sendiri, ”tapi jika pada waktunya nanti, bukan kamu yang mendampinginya, tahu. Dasar kepala batu.”
Gadis itu menendang batu kerikil di dekatnya dan berjalan ke arah yang berlawanan.
*
Nove sedang berusaha keras melengkapi peta butanya ketika pintu ruang belajarnya diketuk.
”Putri Nove.”
”Silakan masuk,” jawab Nove tanpa mengalihkan perhatiannya.
Suga masuk dan menutup pintu. ”Saya minta maaf sudah mengganggu jam belajar Putri,” katanya, ”tapi Raja memanggil Putri Nove sekarang.”
Nove mengangkat wajah, ”Sekarang?”
Suga mengangguk. Nove dapat melihat secarik kegelisahan di wajah Suga. Hal itu membuat perasaan Nove jadi tidak nyaman.
”Ada apa?” tanya Nove.
”Sebaiknya Putri mendengarnya dari Raja sendiri.”
Jantung Nove berdetak lebih kencang dan dikuasai penasaran. Ia menandai letak hasil kerjanya pada bukunya dan menutupnya, merapikan kertas-kertas yang berserakan, kemudian keluar kamar belajarnya, diikuti Suga.
Pintu ruang kerja ayahnya berderit ketika ia masuk. Di dalam sudah ada ayah dan ibunya yang menunggu. Ibunya menangis, ayahnya berusaha menenangkannya. Perasaan Nove makin gelisah. Dan----hei, siapa anak laki-laki yang duduk di seberang ayahnya itu?
”Saya menghadap, Ayah,” Nove memberi hormat.
Ayahnya mengangguk. ”Duduklah,” katanya.
Nove patuh. Ia mengambil tempat di sebelah anak laki-laki itu, karena memang tak ada lagi tempat tersisa. Ia melirik anak laki-laki itu sekilas.
May mungkin menyukai yang seperti ini, pikir Nove.
“Nove, dengarkan,” ayahnya menarik napas, “kau tahu ayah dan ibu sangat sayang padamu.”
Ia merasa pertanyaan itu tak perlu dijawab.
”Kau tahu itu, kan?” ulang ayahnya.
Kali ini Nove mengangguk.
”Begini, ayah...” penjelasan Raja Adaman terputus karena isak Ratu yang makin keras. Raja mengusap punggung istrinya dengan lembut. Kemudian ia melanjutkan, ”ayah tidak hanya punya satu anak.”
Nove menelan ludah. Ia kembali melirik anak laki-laki itu, yang kali ini membalas tatapannya dengan senyum canggung. Tanpa sadar Nove mengambil jarak.
”Sebelum menikah dengan ibumu, ayah punya anak dengan wanita lain. Anak laki-laki ini. August-Olfa. Dia kakakmu.”
Nove kembali menelan ludah. Tidak, jangan katakan, Ayah. Jangan katakan. Jangan katakan. Jangan katakan.
”Dan dia,” Raja melanjutkan, ”Dia yang akan menjadi pewaris tahta.”
Nove melihat ibunya mengatupkan telapak tangan ke wajah yang memerah basah dan berdiri, tanpa mengucap salam meninggalkan ruangan. Ayahnya tidak menghalangi. Laki-laki tua itu tampak menanggung rasa bersalah yang sangat dalam.
Setelah keheningan yang menyiksa, akhirnya Nove bertanya, ”Bagaimana?”
”August-Olfa adalah anak kekasih ayah,” jawab ayahnya, tanpa berusaha menutup-nutupi.
”Walaupun harus mati, aku tak akan memberikan Medali Tahta padanya,” tegas Nove segera, menatap mata ayahnya, ”pada laki-laki yang tak jelas seperti dia. Maka kecuali aku mati, dia tak akan pernah jadi Raja.”
Ayahnya mendesah. Sepertinya ia sudah menduga hal ini.
”Lagipula,” lanjut Nove, matanya mulai berkaca-kaca, ”darimana ayah tahu orang ini tidak berbohong?”
Ayahnya kembali mendesah.
Anak laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Sesuatu yang sama persis seperti yang dimiliki Nove. Melihat benda itu, Nove nyaris tergelincir dari duduknya.
”Saya punya Medali Tahta sendiri,” ujar anak laki-laki itu lirih, seperti takut melukai Nove.
Sekejap Nove hanya terpaku menatap benda itu, seolah baru pertama kali melihatnya. Kemudian ia melirik ayahnya, yang sama sekali tidak menunjukkan air muka terkejut. Sepertinya Raja sudah mengetahui tentang medali ini.
Nove bangkit dari duduknya dan menjerit dengan jijik, ”Palsu! Beraninya kau menipu ayahku dengan medali murahan seperti itu!”
”Tuan Putri, ini asli,” anak laki-laki itu mendongak menatap Nove tanpa ragu-ragu, ”sudah dipastikan oleh Yang Mulia sendiri.”
”Pembohong murahan! Aku tak mungkin menyebutmu kakak ---- apalagi pewaris tahta! Kau harus mati! Atau kalau tidak ---- aku yang akan mati!”
Nove memutar tubuh dengan cepat, lalu menyusul ibunya. Kali inipun Raja tidak mencoba menahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar